Protokol Kesehatan untuk Beribadah di Masjid di Era New Normal

Pandemi Corona menyebabkan adanya pembatasan sosial, hal ini tidak terelakan. Artinya, setiap keramaian mesti dikurangi agar mencegah penularan masal. Dalam hal ini, kerumunan rutin yang ditemui di Indonesia, adalah saat mereka tengah beribadah baik di masjid maupun gereja. Khusus untuk masjid, protokol kesehatan dibentuk dan lebih diperhtaikan karena mayoritas warga negara Indonesia beragama Islam. Dalam kondisi new normal masjid boleh di buka tapi mesti melakukan beberapa penyesuaian. Penyesuaian ini di namakan protokol kesehatan.

Protokol ini berfokus pada peraturan yang harus dipenuhi oleh jemaah. Misalkan, sebelum memasuki masjid mereka diwajibkan membersihkan tangan dengan sabun atau hand sanitizer. Ada juga masjid yang dijaga petugas teras yang membawa thermo gun untuk memeriksa suhu tubuh jemaah. Selain tindakan itu tindakan lainnya untuk #kitajanganmenyerah lawan pandemi mencakup:

  • Tetap buka untuk pelayanan sholat jamaah namun wajib mengikuti perkembangan tentang infeksi coronavirus di setiap wilayah masing-masing.
  • Sosial distansi, yakni menjaga agar jemaat aman dari virus, maka pengelola masjid wajib untuk membuat protokol terhadap Covid-19, seperti menjaga jarak antar saf, setidaknya satu meter antara jamaah, mengenakan masker wajah dari rumah masing-masing, dan membawa alat sholat sendiri.
  • Penyemprotan masjid: Masjid wjib dilakukan disinfektan setiap hari. Karpet sajadah tidak boleh digunakan berulang sebelum dibersijkan, lantai masjid wajib dipel dengan disinfektan, menyediakan pembersih tangan atau tempat cuci tangan dan sabun pad setiap pintu masuk
  • Penggunaan sound sistem. Masjid menjadi salah satu media warga yang efektif untuk menyiarkan informasi penting dan darurat terkait mitigasi Covid-19.
  • Pengelolaan zakat, infaq, dan sumbangan masyarakat. Pengelola masjid diminta untuk mengumpulkan zakat dan donasi baik dalam bentuk uang tunai dan makanan yang bermanfaat bagi warga yang terkenal dampak, atau dialihkan demi meningkatkan kekebalan warga sekitar masjid.
  • Masjid harus bertindak sebagai pos tanggapan cepat untuk ummat: Masjid harus didirikan sebagai pos tanggapan cepat jika ada jamaah terinfeksi Covid-19.
  • Pastikan masjid yang aman dan steril : Memastikan bahwa masjid aman dan steril dari infeksi virus. Jika masjid ada di zona merah, diskusikan lebih lengkap penutupan masjid sementara.
  • Kapasitas masjid. Kapasitas masjid harus di kisaran 40 persen dari kapasitas normal, untuk menjaga jarak fisik satu meter satu sama lain. Jadi, sholat Jum’at hanya diizinkan terbatas dan memperhatikan ruang juga atau dibagi dalam dua termin jumat untuk wilayah yang padat penduduk.
  • Jemaat yang sakit. Poin terakhir dari protokol kesehatan yakni orang yang sakit, batuk, mengalami demam, sesak napas, dan menunjukkan gejala flu dilarang datang ke masjid.

Walau ada pembatasan, ummat Islam diharap tenang, dan kita jangan menyerah dengan kondisi sementara ini.

© Copyright 2006-2020 MiriCommunity.net · A JacksonLiaw.com project.